Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Perjuangan Sisingamangaraja, Sang Raja tanpa Istana

Selamat datang di blog Histoku, blog sejarah berbahasa Indonesia yang meyajikan tulisan-tulisan yang menarik seputar sejarah dunia kepada Anda. Anda sekarang sedang berada di tulisan pertama blog Histoku.Selamat kepada Anda sebagai pembaca perdana di blog Histoku.

Tulisan kali ini, Histoku akan membahas tentang salah satu superhero kebanggan kita dari Tanah Batak yang pernah mempunyai daerah kekuasaan di Tanah Batak, ya seperti yang Anda duga, dia adalah Raja Sisingamangaraja XII.

sisingamangaraja-xii
Lukisan Sisingamangaraja XII


Perkenalan

Raja Sisingamangaraja XII lahir di Bakara, 18 Februari 1845, dan beliau meninggal di Dairi, 17 Juni 1907 dan dimakamkan di Soposurung, Balige. Yapp beliau selama hidup mempunyai usia kurang lebih 62 tahun. 

Sisingamangaraja adalah Raja dan pejuang yang pernah melawan kolonialisasi Belanda di Tanah Batak dan digelari sebagai Pahlawan Nasional oleh pemerintah Indonesia.

Asal Usul

Untuk mengetahui asal-usul Sisingamangaraja, kita perlu mengetahui sosok seorang raja Pagaruyung yang sangat berkuasa dulu di Sumatera terutama di Sumatera Barat sebagai pusat pemerintahannya. Raja Pagaruyung suatu kali pernah berkeliling ke Sumatera Utara untuk menempatkan orang-orang pilihannya untuk memerintah di wilayah kekuasaannya ini. Salah satunya adalah Sisingamangaraja. 

Raffles, seorang Gubernur-Letnan Hindia Belanda pada tahun 1820 pernah menulis sepucuk surat kepada Marsden. Dalam suratnya, Raffles menulis bahwa suatu kali ia pernah berbincang-bincang dengan pemimpin-pemimpin Batak dan mereka menjelaskan kepadanya tentang latar belakang Sisingamangaraja yang adalah keturunan Minangkabau. Hingga awal abad ke-20, melalui perantara Tuanku Barus, Sisingamangaraja rutin mengirimkan upeti kepada pemimpin Minangkabau untuk disampaikan kepada raja Pagaruyung.

raffles
Thomas Stamford Raffles, Gubernur-Letnan Hindia Belanda

Perang melawan Belanda

Masuknya Belanda ke Tanah Batak tidak lepas dari perjanjian antara Belanda dan Inggris pada 1824 yang berisi Inggris memberikan seluruh wilayahnya di Sumatera kepada Belanda. Akibatnya Belanda melakukan aneksasi seluruh wilayah Sumatera.

Beberapa kerajaan di Sumatera telah tunduk kepada Belanda melalui kemenangan yang dilakukan secara invasi militer diantaranya kemenangan invasi di Aceh pada tahun 1873 dilanjutkan dengan invasi Tanah Batak pada 1878.

Masuknya Belanda ke Tanah Batak membuat Sisingamangaraja gerah karena wilayah kekuasaannya di injak-injak oleh penguasa asing dan misionaris-misionaris Belanda yang di cap sebagai Sibontar Mata yang semakin hari semakin banyak pengikutnya untuk memeluk Agama Kristen. 

Sisingamangaraja yang tidak senang kegiatan para misionaris ini mengkampanyekan untuk perang melawan Sibontar Mata di Onan (Pasar).

Misionaris yang merasa terancam karena desas-desus bahwa sang Raja tidak senang akan kehadiran misi penginjilan mereka di Tanah Batak mengadu ke pihak Belanda 

Pada tahun 1877 para misionaris di Silindung dan Bahal Batu meminta bantuan kepada pemerintah kolonial Belanda dari ancaman diusir oleh Singamangaraja XII.

Pada tanggal 6 Februari 1878 pasukan Belanda tiba di kediaman seorang misionaris bernama Ingwer Ludwig Nommensen di daerah pusat penginjilannya di Pearaja, Tarutung. Penginjil Nommensen dan Simoneit sebagai penerjemahnya pergi menuju Bahal Batu untuk menyusun benteng pertahanan. Penginjil Nommensen dan Simoneit mendampingi pasukan Belanda selama ekspedisi militer yang dikenal sebagai Perang Toba I.

Kehadiran tentara-tentara kolonial yang ditempatkan di benteng-benteng pertahanan di Bahal Batu turut memprovokasi Sisingamangaraja XII. Akibatnya sang raja mengumumkan untuk perang pada tanggal 16 Februari 1878 dan penyerangan dilakukan ke pos-pos Belanda di Bahal Batu.

Pusat pemerintahan Sisingamangaraja XII di Bakara diserang oleh pasukan kolonial dan akhirnya ditaklukan oleh tentara kolonial pada tanggal 3 Mei 1878 karena dukungan tambahan pasukan sebanyak 250 orang tentara dari Sibolga yang dipimpin oleh Kolonel Engels pada tanggal 14 Maret 1878.

istana sisingamangaraja xii
Istana Sisingamangaraja XII di Bakara

Para misionaris mempersenjatai orang-orang yang telah memeluk agama Kristen untuk melawan orang-orang yang memihak Sisingamangaraja. Akibatnya perang saudara juga tidak terelakkan.

Sisingamangraja XII  terus melanjutkan perlawanan secara gerilya walaupun Bakara dan Toba telah ditaklukkan. Hingga akhir Desember 1878 sebagian besar seluruh wilayah kekuasaannya telah ditaklukkan oleh tentara kolonial.

Di antara tahun 1883-1884, Singamangaraja XII bersama pasukan bantuan dari Aceh, menyerang kedudukan Belanda antaranya Uluan dan Balige pada Mei 1883 serta Tangga Batu pada tahun 1884.

Kematian

Sisingamangaraja XII tewas pada tanggal 17 Juni 1907 di pinggir bukit Aek Sibulbulon, di suatu desa bernama Si-Onom Hudon. Sisingamangaraja XII disergap oleh Korps Marsose pimpinan Hans Christoffel. 

pasukan marsose
Pasukan Marsose, yang anggotanya adalah Pribumi yang setia pada Ratu Belanda

Sisingamangaraja XII menghadapi pasukan Korps Marsose sambil memegang senjata Piso Gaja Dompak. Seorang penembak jitu pasukan Marsose yang bernama Kopral Souhoka  mendaratkan tembakan ke kepala Sisingamangaraja XII tepat di bawah telinganya. 

Di detik-detik napas terakhir dia tetap berucap, Ahuu Sisingamangaraja. Turut gugur waktu itu dua putranya Patuan Nagari dan Patuan Anggi, serta putrinya Lopian. Sementara keluarganya yang tersisa ditawan di Tarutung. Sisingamangaraja XII sendiri kemudian dikebumikan Belanda secara militer pada 22 Juni 1907 di Silindung


Posting Komentar untuk "Perjuangan Sisingamangaraja, Sang Raja tanpa Istana"